Opini

“Kemerdekaan Lahir dan Batin: Menemukan Kekuatan Hakiki di Tengah Zaman yang Penuh Topeng”

Opini

Refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia: Merdeka dari Belenggu Nafsu, Ego dan Ketakutan kepada Manusia

Oleh: Harry Utha
Opini | Refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia

Fokus Lensa Nusantara.com Indonesia — Memasuki momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kemerdekaan semestinya tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan secara lahiriah. Lebih jauh dari itu, kemerdekaan juga menjadi perjalanan manusia untuk membebaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu, kesombongan, kebodohan, ketakutan, dan ketergantungan kepada kekuatan manusia.

Kemerdekaan lahir telah diperjuangkan oleh para pendahulu dengan darah, air mata dan pengorbanan. Namun setelah bangsa ini merdeka secara lahiriah, masih ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: Sudahkah manusia Indonesia merdeka secara batin?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan agama, tetapi juga persoalan moral dan kemanusiaan.Sebab manusia yang secara lahiriah merdeka tetapi masih diperbudak oleh keserakahan, jabatan, materi, kepentingan, ego dan hawa nafsunya, sesungguhnya belum sepenuhnya memahami makna kemerdekaan.

Dalam perjalanan spiritual dan keilmuan tharekat, manusia diajak untuk mengenal dirinya, mengendalikan nafsunya, memperbaiki akhlaknya dan menyadari kedudukannya sebagai seorang hamba Allah.Idealime tanpa ilmu dapat berubah menjadi kesombongan.Keberanian tanpa hikmah dapat berubah menjadi tindakan yang merusak.

Ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan.Sementara amal tanpa keikhlasan dapat menyeret manusia kepada riya dan merasa paling benar.Karena itu, perjalanan lahir dan batin harus berjalan bersama.Kekuatan Bukan Karena ManusiaAda manusia yang merasa kuat karena jabatan.

Ada yang merasa kuat karena harta.Ada yang merasa kuat karena kelompok.Ada yang merasa kuat karena memiliki pengaruh.Namun semua kekuatan tersebut pada akhirnya bersifat sementara.Dalam kesadaran tauhid, manusia memahami bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan yang lahir dari kesombongan manusia, melainkan kekuatan yang bersumber dari pertolongan Allah SWT.

Ketika seorang manusia benar-benar meyakini bahwa setiap gerak dan hela napasnya berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah, maka lahirlah ketenangan yang berbeda.Ia tetap berikhtiar, tetapi tidak menyombongkan ikhtiarnya.Ia berani melawan ketidakadilan, tetapi tidak menjadikan kebencian sebagai tuhan baru dalam dirinya.

Ia berani menyampaikan kebenaran, tetapi tetap menjaga adab.Ia tidak mudah tunduk kepada manusia hanya karena jabatan dan kekuasaan.Namun ia juga tidak merasa dirinya paling suci atau paling benar.

Melawan Nafsu yang Bersembunyi di Balik Topeng

Zaman sekarang mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua yang terlihat baik benar-benar baik, dan tidak semua yang berbicara tentang kebenaran telah selesai dengan dirinya sendiri.Ada manusia yang menggunakan bahasa agama tetapi hatinya dipenuhi kesombongan.Ada yang berbicara tentang keadilan tetapi masih dikuasai kepentinganAda yang tampil seperti malaikat tetapi lisannya melukai manusia lain.Karena itu, seorang manusia yang sedang menempuh perjalanan batin seharusnya tidak terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain sebelum memeriksa dirinya sendiri.Sebab musuh terbesar manusia terkadang bukan orang yang berada di luar dirinya.Musuh itu bisa bersembunyi di dalam dada:

nafsu, ego, kesombongan dan keinginan untuk selalu dianggap benar.

Dalam jalan tharekat, perjuangan terbesar justru adalah menundukkan diri sendiri.Bukan berarti manusia harus pasrah kepada kezaliman.Justru sebaliknya, ia harus memiliki keberanian untuk berdiri di atas kebenaran. Tetapi keberanian itu harus dibimbing ilmu, akhlak dan kesadaran kepada Allah.

Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Kemerdekaan sejati bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja.Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia tidak lagi menjadi budak hawa nafsunya.Tidak menjadi budak keserakahan.

Tidak menjadi budak pujian.

Tidak menjadi budak kebencian.

Tidak menjadi budak ketakutan kepada manusia.

Dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir kehidupannya.Manusia tetap hidup di dunia, bekerja, berjuang, membangun bangsa dan memperjuangkan keadilan. Namun hatinya tidak diperbudak oleh dunia.Inilah makna kemerdekaan lahir dan batin.Bangsa yang merdeka membutuhkan manusia yang merdeka jiwanya.

Manusia yang merdeka jiwanya adalah manusia yang mampu menggunakan ilmu untuk kebaikan, kekuasaan untuk melayani, harta untuk kemanfaatan, dan keberanian untuk membela kebenaran.

Dari Kemerdekaan Menuju Kehambaan

Pada akhirnya, perjalanan manusia bukan tentang menjadi seseorang yang paling tinggi di hadapan manusia.Tetapi menjadi seorang hamba yang semakin mengenal siapa dirinya dan kepada siapa ia akan kembali.Ia menyadari bahwa dirinya bukan pemilik mutlak kehidupan.Ia hanya sedang menjalani amanah.Setiap napas adalah amanah.Setiap ilmu adalah amanah.Setiap kekuasaan adalah amanah.Setiap jabatan adalah amanah.Dan setiap kesempatan untuk berbuat baik adalah karunia dari Allah SWT.Karena itu, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah Indonesia hanya merdeka secara teritorial, atau sudah mulai merdeka secara moral dan batin?

Sebab penjajahan yang paling sulit dilawan bukan selalu datang dari luar.Kadang penjajahan terbesar justru terjadi ketika manusia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Merdeka dari penjajahan adalah sejarah.Merdeka dari hawa nafsu adalah perjuangan.Dan merdeka dalam penghambaan kepada Allah adalah perjalanan sepanjang kehidupan.

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Semoga pada usia ke-81 tahun Republik Indonesia, kita tidak hanya mengibarkan Merah Putih di langit negeri, tetapi juga menyalakan cahaya kemerdekaan di dalam diri: cahaya ilmu, akhlak, keadilan, persaudaraan dan ketauhidan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka negerinya.
Merdeka rakyatnya.
Merdeka lahirnya.
Merdeka batinnya.

Dan pada akhirnya, seluruh kemerdekaan itu kembali kepada satu kesadaran:

Kita adalah manusia yang berikhtiar, tetapi Allah-lah tempat segala daya dan kekuatan bersandar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button