Mengenang Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno: Jejak Pengabdian Prajurit Zeni hingga Kursi Wakil Presiden RI

JAKARTA | fokuslensanusantara.com | Dalam catatan sejarah kepemimpinan nasional Indonesia, nama Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno menempati posisi khusus sebagai figur yang merepresentasikan loyalitas, kesederhanaan, dan profesionalisme militer.
Perjalanan kariernya yang membentang dari seorang perwira teknik hingga menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 (1993–1998) menjadi refleksi penting bagi dinamika politik dan pertahanan era Orde Baru.
Awal Karier dan Kedisiplinan Teknik
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno menempuh pendidikan militer di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan lulus pada tahun 1959.
Latar belakang sebagai perwira Zeni (teknik) membentuk pola pikirnya yang sistematis, terukur, dan penuh kehati-hatian dalam mengambil keputusan strategis.
Pengabdian lapangan pertamanya tercatat dalam Operasi Trikora (1962), di mana ia mulai mengenal Mayor Jenderal Soeharto.
Kedekatan profesional ini membawa Try Sutrisno dipercaya menjadi Ajudan Presiden Soeharto (1974–1978).
Jabatan ini menjadi titik balik krusial yang menempatkannya dalam lingkar inti kekuasaan, memberikan wawasan mendalam mengenai tata kelola negara dan stabilitas nasional.
Puncak Karier Militer : Penjaga Stabilitas Nasional
Selepas tugas sebagai ajudan, karier militernya melesat secara konsisten melalui berbagai jabatan komando strategis, di antaranya:
Panglima Kodam IV/Sriwijaya
Panglima Kodam V/Jaya
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad)
Panglima ABRI (1988–1993)
Sebagai Panglima ABRI, Try Sutrisno memimpin angkatan bersenjata di tengah transisi geopolitik global akhir Perang Dingin.
Meskipun masa kepemimpinannya diwarnai tantangan besar seperti peristiwa Tanjung Priok dan insiden Santa Cruz di Timor Timur, ia tetap dikenal sebagai figur yang tenang dan teguh pada prinsip stabilitas demi keutuhan NKRI.
Kesaksian Tokoh : Menakar Sosok Try Sutrisno
Kepemimpinan Try Sutrisno meninggalkan kesan mendalam bagi para sejawat dan penerusnya.
Presiden ke-2 RI, Soeharto, memandang Try sebagai perwira dengan “loyalitas tegak lurus” yang tuntas dalam menjalankan perintah tanpa ambisi politik pribadi yang meledak-ledak.
Sementara itu, B.J. Habibie sangat menghormati kesantunan Try sebagai “pendengar yang baik” dalam rapat kabinet, yang selalu memberikan masukan berbasis data lapangan.
Dari kalangan militer, Jenderal TNI (Purn.) Wiranto sering menyebutnya sebagai “Guru Kesederhanaan”, mengingat rumah dan gaya hidup Try yang tetap membumi meski telah mencapai puncak kekuasaan.
Bagi banyak tokoh lintas agama, beliau adalah potret “Jenderal yang Sajadahnya Tidak Pernah Kering”, mencerminkan kedisiplinan ibadah di tengah kesibukan negara.
Wakil Presiden dan Simbol Loyalitas
Pada Sidang Umum MPR 11 Maret 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-6.
Penunjukannya mencerminkan kepercayaan institusional yang kuat.
Selama masa jabatannya, ia berperan aktif dalam mendukung kebijakan pembangunan nasional dan pengawasan aparatur negara, hingga berakhirnya masa tugas pada Maret 1998, sesaat sebelum era Reformasi bergulir.
Sisi Humanis : Kesederhanaan dan Spiritual
Di luar atribut militernya, Try Sutrisno dikenal luas karena gaya hidupnya yang bersahaja.
Hingga masa purnatugas, ia tetap mempertahankan prinsip kesederhanaan, menjauh dari kesan kemewahan.
Sebagai purnawirawan, ia juga dikenal religius dan sering menjadi sosok pengayom yang mengedepankan nilai-nilai moral dan Pancasila.
Warisan Pengabdian
Jejak karier Try Sutrisno adalah potret nyata dedikasi seorang prajurit yang setia pada konstitusi dan pimpinannya. Ia dikenal sebagai figur yang minim musuh politik dan tetap dihormati oleh lintas generasi.
“Beliau adalah teladan bagi perwira muda mengenai bagaimana menjaga integritas di tengah kekuasaan,” ungkap salah satu kolega dalam mengenang sosoknya.
Hingga kini, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno tetap dipandang sebagai “Begawan” bagi institusi TNI, yang warisan pemikirannya tentang Wawasan Nusantara terus menjadi rujukan dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Redaksi: Tribuanamuda.com





