terkini

Ekonomi Desa Harus Bangkit! DPN ALUN Mulai Konsolidasi Agroforestry di Sumatera Selatan

Breaking News

JAKARTA | Fokus Lensa Nusantara.com | 25 Februari 2026 – Di tengah tekanan ekonomi desa, ketimpangan akses lahan, dan lemahnya posisi tawar petani kecil, Dewan Pimpinan Nasional Apresiasi Lingkungan dan Hutan Indonesia (ALUN) resmi memulai konsolidasi besar-besaran program agroforestry berbasis ekonomi kerakyatan di Provinsi Sumatera Selatan.

Langkah strategis ini ditandai dengan penerbitan dua Surat Tugas resmi kepada koordinator daerah di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin. Kebijakan tersebut menjadi sinyal kuat dimulainya penguatan kelembagaan petani dari tingkat akar rumput.

Ketua Umum DPN ALUN, Baharuddin Rahman, menegaskan bahwa desa tidak boleh terus menjadi objek ekonomi.

“Desa harus menjadi pusat produksi, bukan sekadar pasar. Petani harus memiliki posisi tawar. Tanpa pengorganisasian yang kuat, mereka akan terus berada di posisi paling lemah dalam rantai distribusi,” tegasnya.

UNGKAP: Dua Koordinator Resmi Ditunjuk.

Adapun koordinator yang ditunjuk adalah:

  1. Yoni Iswar sebagai Koordinator Kabupaten Banyuasin (Nomor: U01/ST-DPN ALUN/II/2026).
  2. Karsim Kurniadi sebagai Koordinator Kabupaten Musi Banyuasin (Nomor: 002/ST-DPN ALUN/II/2026).

Keduanya diberi mandat untuk:

  1. Melakukan konsolidasi dan pendataan masyarakat.
  2. Mensosialisasikan program pengelolaan lahan berbasis agroforestry.
  3. Menghimpun dokumen pembentukan Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan Koperasi.

Surat tugas tersebut berlaku sejak ditandatangani hingga dicabut kembali sebagai dasar legal operasional di lapangan.

Sorotan Ketimpangan Akses Lahan.

Program ini lahir di tengah fakta bahwa banyak petani kecil masih menghadapi persoalan klasik: akses lahan terbatas, fluktuasi harga komoditas, serta ketergantungan pada tengkulak.

Secara struktural, persoalan agraria dinilai belum sepenuhnya memperkuat posisi ekonomi rakyat. Tanpa kelembagaan kolektif, petani sering kali hanya menjadi penerima harga, bukan penentu harga.

“Kalau petani bergerak sendiri-sendiri, mereka lemah. Kalau terorganisir, mereka kuat,” ujar Baharuddin.

Bukan Sekadar Tanam Pohon.

ALUN menegaskan bahwa agroforestry bukan sekadar program penghijauan. Ini adalah desain ekonomi desa berbasis lahan yang mengintegrasikan:

1. Tanaman kehutanan.
2. Tanaman pertanian.
3. Komoditas produktif bernilai

ekonomi.Pendekatan teknis ini bertujuan untuk:

  1. Diversifikasi pendapatan petani.
  2. Mengurangi risiko ketergantungan satu komoditas.
  3. Meningkatkan nilai tambah melalui koperasi.
  4. Menjaga keseimbangan ekologis jangka panjang.

Jika berjalan efektif, model ini dapat memperkuat daya tahan ekonomi desa sekaligus menjaga fungsi lingkungan.

Tahap Awal Konsolidasi Wilayah.

Banyuasin dan Musi Banyuasin menjadi titik awal konsolidasi sebelum diperluas ke wilayah lain di Sumatera Selatan. Target tahap pertama adalah terbentuknya struktur kelembagaan tani yang solid dan terorganisir.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa gerakan ekonomi hijau berbasis rakyat mulai bergerak dari wacana ke praktik konkret.

Sumatera Selatan berpotensi menjadi percontohan nasional jika model ini berhasil memperkuat ekonomi desa secara kolektif dan berkelanjutan.

Catatan Redaksi Fokus Lensa Nusantara.com

Gerakan konsolidasi agroforestry ini menjadi ujian nyata apakah penguatan ekonomi desa benar-benar dapat dijalankan dari bawah. Tantangan terbesar bukan hanya pada konsep, tetapi pada konsistensi implementasi, transparansi pengelolaan, serta keberpihakan kebijakan agraria terhadap petani kecil.

Fokus Lensa Nusantara.com akan terus memantau perkembangan program ini di lapangan.

Redaksi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button